image1 image2 image3 image4 image5 image6

HELLO I'M KENNY LISCHER|A STUDENT IN GENE REGULATION LAB|ENJOY SCIENCE AND MOMENT|LET'S LEARN, SHARE, AND INSPIRE

Pesimisme APBN dan Daya Saing


Pidato sby yang membahas pengantar RAPBN 2011 di depan DPR beberapa waktu lalu  ternyata menuai pro kontra di kalangan publik. Pihak yang pro menyatakan asumsi-asumsi ekonomi yang dipakai pada RAPBN telah mencerminkan optimisme serta arah yang yang dituju pemerintah untuk kesejahteraan rakyat.sementara pihak yang kontra menuding pemerintah terlalu bermain aman, serta tidak memiliki ambisi untuk melangkah lebih maju,dan belum beran memberikan target terbaik buat rakyat.
Jika APBN 2011 dicermati lebih jauh, tampak program yang disampaikan pemerintah mencerminkan lebih kuatnya sisi pesimistis terhadap ekonomi nasional ketimbang sisi optimisnya. APBN juga belum memberikan porsi yang lebih besar bagi upaya penguatan daya saing nasional di kancah regional maupun global. Padahal,kedua hal tersebut sangat penting bagi kita dimana tingkat kompetisi antar Negara kian ketat.
Sikap pesimistis pemerintah itu bisa dilihat dari beberapa patokan asumsi APBN yang digunakan. Pertama,target produksi minyak yang sejak 10 tahun hingga sekarang angkanya masih berkutat di kisaran 900ribuan berel perhari(BPH). Padahal sejak bp migas dibentuk, sudah terdapat langsung lading migas yang disenderkan dan dieksplrosasi. Namun, produksi minyak kita tetap saja tidak beranjak dari anjak kritis di bawah 1juta bph karena itu, kita pun berat hati terpaksa keluar dari OPEC.
Kedua, angka pertumbuhan ekonomi. Sekalipun pemerintah tidak bekerja, pertumbuhan dari sisi konsumsi masyarakat telah menyumbangkan 4% - 4,5% dari total pertumbuhan. Jadi, ketika pemerintah benar-benar bekerja, angka itu semestinya bisa lebih dari 6,3%. Karena itu, angka pertumbuhan pada APBN 2011 seharusnya bisa dipatok di atas 7%.
Sikap pesimisme yang ketiga ialah angka suku bunga SBI yang dipatok masih 6,5%. Jika memang pemerintah pro sector riil dan berniat memacu sector ekonomi yang lebih mikro, seharusnya ada keberanian menurunkan SBI di level 5%-6%. Dengan SBI tetap 6,5% maka bunga kredit masih tetap tinggi alias tetap dua digit, SBI sebesar itu juga belum mampu menyurutkan niat perbankan untuk tetap memberikan bunga deposito tinggi kepada nasabah-nasabah mereka yang memiliki dana besar.
Belum lagi, jika kita bicara soal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang memang sengaja terus dilemahkan. Tidak heran, jika kemudian berbagai program dan kebijakan pemerintah tidak terlalu peduli terhadap peningkatan daya saing bangsa yang hingga kini masih terpuruk di berbagai bidang. Padahal, daya saing kita di sejumlah bidang strategis seperti birokrasi, regulasi, korporasi, produksi dan SDM sangat jauh tertinggal dibandingkan Negara-negara lainnya.
Berbagai permasalahan ini muncul terutama karena pemerintah lebih suka mengurusi persoalan-persoalan kecil jangka pendek seperti politik, kekuasaan, dan pencitraan ketimbang mengupayakan peningkatan daya saing ekonomi nasional. Bisa juga karena mengupayakan peningkatan daya saing ekonomi nasional. Bisa juga karena memang para pejabat yang tengah berkuasa tidak sadar atas pentingnya tantangan besar ini.
Kita menuntut pemerintah supaya lebih memiliki visi persaingan global, menebarkan semangat dan optimisme kepada bangsa, dan menjadikan rakyat sebagai objek pembangunan bersama. Kita mendambakan pemimpin yang mampu mengajak rakyatnya menatap masa depan secara pasti dan terarah. Jadi, optimislah wahai pemimpinku

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment