image1 image2 image3 image4 image5 image6

HELLO I'M KENNY LISCHER|A STUDENT IN GENE REGULATION LAB|ENJOY SCIENCE AND MOMENT|LET'S LEARN, SHARE, AND INSPIRE

Syair Untuk Negeriku Yang Berduka


Belum habis kecupanku bersandar
di dinding gadang
Kini sudah terukir petuah menyayat-nyayat
di bilik hati anak-cucucucuku
Belum habis bibir ini kering terucap
Kini sudah terdengar genderang luka
di selaput telingaku
Tersiar kabar negeriku
yang sedang luluh lantak
Tak berdaya!*





Syair diatas sengaja saya tulis sebagai hadiah untuk sebuah rasa ungkapan
simpati saya terhadap negeri ini—yang saya cintai dan khususnya untuk
saudara-saudara saya yang sedang mengalami bencana musibah gempa di
Sumatera, Padang dan Pariaman. Entah sudah berapa kali bencana musibah gempa
melanda di negeri ini hingga saya semakin sadar bahwa Tuhan (memang) sedang
menguji umatNya. Belum usai tragedi musibah gempa di Tasikmalaya dan Garut
kini terjadi kembali. Bahkan belum hitungan sebulan kini sudah terjadi
kembali. Musibah gempa!


Hingga saya bertanya-tanya adakah yang salah pada negeri ini? Atau, Tuhan
memang sedang menyayangi umatNya? Mungkin! Agar umatNya sadar dan memahami
musibah yang sudah terjadi di negeri ini. Bahkan saya masih teringat dengan
dialog saya kepada kawan saya saat tragedi musibah gempa di
Tasikmalaya—dengan rasa keingintahuan saya terhadap kawan saya itu akhirnya
saya pun menelepon dirinya. Menanyakan kabar serta bagaimana kondisi kampung
halamannya saat tragedi musibah itu terjadi.


“Assalamualaikum…., gimana bro keadaan kampung lu sekarang? Moga-moga nggak
terjadi apa-apa ya?” tanya saya saat musibah tragedi gempa terjadi.


“Alhamdulillah, kampung ane nggak apa-apa,” jawab kawan saya dari balik
telepon genggam di seberang jalan sana.


Begitulah kabar berita yang disampaikan kepada kawan saya mengenai keadaan
kampung halamannya.


Lega.


Bersyukur ketika saya mendapatkan kabar seperti itu. Bahwa kampung halaman
kawan saya saat itu tak terjadi apa-apa apalagi keluarga besarnya. Maklumlah
kawan saya itu berasal dari Tasikmalaya. Dan ternyata targedi musibah gempa
itu masih jauh dari kampung halamannya. Namun yang menyedihkan kampung
halaman sanak-saudaranya yang mengalami musibah itu. Tetapi hanya tempat
tinggalnya yang sedikit retak–retak tanpa mengalami cendera apalagi sampai
ada yang mengalami yang tak diinginkan. Namun kawan saya itu tetap turut
bela sungkawa sebagai orang yang berasal dari Tasikmalaya.


Kini terjadi kembali tragedi musibah yang serupa bahkan lebih miris dan
menyedihkan ketika mata memandang. Terlebih dalam tragedi musibah ini
memakan korban jiwa kurang lebih dari 500 jiwa nyawa melayang dalam tragedi
musibah tersebut. Entah sampai kapan tragedi musibah ini tak terulang
kembali? Saya pun sebagai makhluk sosial amat merasakan kepedihan
saudara-saudara saya disana. Amat terpukulnya mereka atas kejadian tragedi
musibah yang mereka alami.


Apakah harus meratapi selamanya? Serta harus bersedih setiap hari?


Hmm, saya rasa sebagai makhluk yang ber-Tuhan Yang Maha Kuasa dan Yang Maha
Tahu tentunya kita tahu apa yang harus kita lakukan seharusnya. Karena
sebagai umatNya kita tak cukup hanya meratapi apalagi bersedih. Dan tragedi
gempa bumi yang ada sekarang mungkin ujian kecil untuk kita lebih menyukuri
dan sadar bahwa tak ada yang lebih tinggi selain Sang Khalik. Dan mengenai
musibah ini janganlah memandang sebagai ujian bahwa Tuhan tidak menyanyangi
kita. Malah sebaliknya kita diperintahkan tetap harus lebih meninggikan rasa
kesabaran dan keikhlasan kita terhadap ujian ini. Maka dengan kesabaran dan
keikhlasan itu saya hanya dapat memberikan hadiah syair ini—yang semuanya
semata-mata untuk menghibur saudara-saudara saya yang terkena tragedi
musibah gempa.


Belum habis bibir ini kering terucap
Kini sudah terdengar genderang luka
di selaput telingaku
Tersiar kabar negeriku
yang sedang luluh lantak
Tak berdaya!

Sumber : http://www.eramuslim.com/oase-iman/syair-untuk-negeriku-yang-berduka.htm

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment