image1 image2 image3 image4 image5 image6

HELLO I'M KENNY LISCHER|A STUDENT IN GENE REGULATION LAB|ENJOY SCIENCE AND MOMENT|LET'S LEARN, SHARE, AND INSPIRE

Kompos!


Pada suatu malam ku berjanji dengan seseorang di sebuah rumah makan di daerah Margonda, Depok. Tempat kami selalu berbagi kabar, bercerita, dan berdiskusi tentang banyak hal. Setelah memesan makanan dan minuman serta membicarakan beberapa hal,

“aku ingin bercerita tentang pengalamanku beberapa bulan yang lalu, ingin mendengar?”, sahutku
                “Yap, cerita apa ken?”, dia membalas

Seperti biasa, dia begitu antusias untuk mendengarkan. Ini yang membuatku tertarik untuk selalu bertukar pandangan dengannya. Walaupun kutaktahu apakah yang dia rasakan sama seperti yang kurasakan. But I think It’s okay, as long as we comfort with the situation.
----

Akhirnya tiba juga hari itu. Hari dimana semua sekolah-sekolah Menengah Atas terpilih yang mengikuti sebuah perlombaan akbar dikala itu saling berkompetisi. Memperebutkan sebuah Award untuk para pemuda yang akan menjadi pemimpin dimasa depan terutama di bidang lingkungan.

Yang lain sibuk membawa hasil karya-karyanya dengan tertatih-tatih. Ada yang membawa hasil karya daur ulang, sabun, tong sampah modifikasi, tongkat pembuat biopori, briket, dan lain sebagainya. Tidak sungkan-sungkan mereka melengkapinya dengan perlengkapan yang canggih, mulai dari laptop hingga proyektor.

“Namun, apa yang mereka bawa?”, sahut saya dalam hati

Sementara yang lain sibuk menata tempat dengan perkakas-perkakasnya dimana perhelatan kompetisi tersebut dilangsungkan. Mereka hanya membawa sebuah plastik yang berisi sebuah hasil olahan sampah-sampah organik yang sederhana yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Hanya sebuah jejak-jejak kesederhanaan yang mereka bawa.

Waktu terus berdetak. Alunan simfoni lagu wdan rangkaian kegiatan di kala itu membuat waktu menjadi singkat. Kompetisipun telah selesai dilakukan. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba.

“Siapa yang akan menang?”, sahutku.

“Ga tahu, yang menilai bukan gw. Yang menilai ada dari perwakilan British Council dan juga ada dari komunitas kepemudaan yang bergerak di bidang lingkungan. Siapapun pemenangnya dia telah melalui proses panjang”, temanku membalas.

“Pastinya. Yang menang adalah yang terbaik”, membalas pembicaraan sambil melihat para kontestan.

Indeed”, dia membalas

Akhirnya pengumuman itu pun tiba.

Tanpa disangka-sangka mereka yang hanya membawa kantong plastik hasil olahan sampah-sampah organik menjadi pemenangnya. Tidak menyangka-nyangka. Keajaiban yang tidak terkira ketika melihat ternyata mereka pemenangnya. Mereka berhasil membawa jejak-jejak kesederhanaan menjadi sebuah keistimewaan. Ini semua berkat kompos didalamnya.

Kompos! Yak kompos. Tidak awam lagi kata-kata tersebut apabila dilontarkan. Sebuah hasil olahan sampah-sampah organik yang dapat digunakan sebagai pupuk. Sebuah hasil dari bahan-bahan terbuang yang bila dibiarkan justru membuat permasalahan berkepanjangan. Kompos ini bukan sembarang kompos. Di dalam kompos tersebut telah tercampur dengan keringat, senang, dan sedihnya kelompok mereka. Saya pun yang menjadi mentor sekaligus saksi dari apa yang telah dilakukan cukup bangga dengan yang telah mereka raih.

Saat melihat kelompok itu berdiri menjadi pemenang, saya pun berkata keteman-teman saya, “You know guys, kompos yang mereka buat bukan kompos sederhana yang kalian kira”

Kompos ini dibuat berdasarkan bimbingan dari seorang bapak yang rela tidak dibayar sama sekali untuk mendidik anak-anak didiknya. Sebut saja namanya Pak Tito. Beliau adalah mantan aktivis, ketika tahun 1998 pernah ikut serta menduduki gedung DPR.  Tahun dimana pada saat itu saya hanya dapat melihat melalui TV, dimana gedung DPR dibanjiri dengan jaket almamater berwarna kuning, abu-abu, biru, hijau dan merah. Menuntut satu kata REFORMASI atau MATI.

Setelah lulus kuliah, beliau langsung membuka usaha. Sebuah usaha yang bergerak di bidang elektronika untuk membangun sebuah laboratorium bahasa, komputer, dan juga untuk instalasi listrik. Beliau pun mengajar di sekolah tanpa digaji. Sekolah swasta yang terletak di dekat kawasan pasar Kemiri, Depok ini menyimpan bakat-bakat terpendam yang membuatnya sangat berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya. Sekolah yang hanya berukuran kira-kira 10x8 m ini menampung 3 angkatan dengan jumlah 1 angkatannya maksimal 20 orang. Dulu sempat mencapai 30 orang tetapi jumlahnya makin lama semakin turun.

Di tengah kondisi sekolah dengan fasilitas seadanya, beliau mencetak anak-anak didik dengan bekal karya-karya. Bukan hanya 1 tetapi puluhan. Alarm banjir, biogas, kompos, hasil daur ulang plastik, kerajinan dari sampah kertas, sound system, dan lain sebagainya. Tidak lupa juga ada tarian modern, dengan segala kesederhanaannya dapat menciptakan tarian-tarian yang indah mencampakkan cipta, rasa, dan karsa. Dan juga ada juga 1 kelompok tim band, yang telah memiliki lagu ciptaan sendiri ini.

“Apa yang telah kulakukan? Mereka sangat menakjubkan. Di tengah kesederhanaan ternyata mampu mencetak kedahsyatan”,sahutku dalam hati.

Selalu teringat kenangan teriakkan dari Rachma, Jaka, ataupun siswa lainnya disana,”WWAAAHH, ada Ka Kenny datang”.  Mereka pun langsung sibuk dengan kegiatan KIR nya.

Ketika mendengar kata-kata tersebut justru membuat rasa lelah menjadi hilang. Semangat menggelora kembali menyelimuti. Yah, ini mungkin sebuah panggilan. Panggilan bahwa saya telah memiliki bagian lain dari kehidupan saya. Bagian yang membawa saya untuk terus menciptakan perubahan.

Semangat tiada henti untuk terus merangkai senyum-senyum Indonesia.. J
Ya,inilah kompos hasil buatan kami semua. Kompos kemenangan!
----

Makanan dan minuman yang dipesan pun telah habis.

“Baik, sekarang waktunya untuk kembali kamar inspirasi masing-masing”

Kamipun berpisah di tengah keramaian lalu lintas Jalan Margonda, Depok. Tiada kata perpisahan yang terucap. Hanyalah sebuah rangkaian kata

                “kapan-kapan makan malam bareng lagi ken”

Malam makin larut..

Selamat malam semuanya J

*di Tulisan ini ada permainan kata-kata dan juga ada fakta.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment