image1 image2 image3 image4 image5 image6

HELLO I'M KENNY LISCHER|A STUDENT IN GENE REGULATION LAB|ENJOY SCIENCE AND MOMENT|LET'S LEARN, SHARE, AND INSPIRE

Orang Jepang Pemalu?

Selama saya di Jepang, ada satu hal unik yang mengusik pikiran. Yaitu tentang fenomena anak-anak muda jepang. Ketika saya ingin berangkat ke negeri sakura ini, banyak ekspektasi besar yang liar tentang kehidupan jepang yang sangat disiplin, kerja keras, on time freak, dan lembur freak. Ya, saya menemukan itu semua tapi ada satu hal baru yang ditemukan yaitu mereka pemalu.


Kenapa bisa demikian? 

1. Sedikit aktivitas di sosial media
Tidak seperti orang-orang di Indonesia yang sangat ketergantungan dengan sosial media. Hampir tiap sosial media pasti dimiliki mulai dari facebook, twitter, instagram, path, snapchat, dan lain sebagainya. Setiap hari selalu saja ada postingan, entah itu hanya sekedar teks, photo, bahkan rekaman video.

Hal yang bertolak belakang saya temukan untuk orang-orang jepang. Jangankan instagram, snapchat, ataupun path, teman-teman jepang saya sangat sedikit yang memiliki akun facebook. Pengecualian di lab saya yang memang diharuskan semua membernya memiliki akun facebook karena segala informasi berkaitan dengan penelitian dan lab di posting lewat grup di facebook. Jikapun mereka punya, akan sangat jarang sekali update. Photo profile pun lebih sering menggunakan foto kucing, anjing, atau peliharaan mereka lainnya, boneka, atau barang-barang yang bagi mereka sangat berharga. Informasi di bagian about sangat sedikit. 

Selain itu, jumlah friends mereka juga sangat sedikit. Mereka hanya akan konfirmasi yang benar-benar mereka tahu. Saya pernah ditanyakan oleh teman-teman jepang di lab saya,"kenapa kamu punya jumlah friends 4000an lebih? kamu artis ya?". Sontak tertawa mendengarnya. Dari 4000an orang itu ga semuanya saya kenal dengan baik. Beberapa hanya pernah ketemu pada saat event tertentu. Beberapa tidak diketahui sama sekali asal muasalnya tetapi tetap jadi "teman" di facebook.

2. Suka bergosip
Ini merupakan kebiasaan yang sudah lumrah di kalangan orang Jepang. Pada saat pertama kali saya datang ke Jepang, saya ga tahu tentang ini. Cuma tahu dari teman-teman kalau mereka selalu bergosip. Seiring semakin mengerti bahasa Jepang akhirnya saya mengalami sendiri kalau ternyata memang benar mereka suka bergosip. Jika ada gosip akan dengan mudahnya tersebar kemana-mana. Karena orang-orang Jepang tidak mau menjadi bahan gosip yang negatif, akhirnya mereka sangat menjaga identitas diri pun hal yang sama dilakukan di sosmed.

3. berprinsip teman itu hanya 10 orang terdekat
Bagi kita orang yang baru ketemu sekali saja akan dianggap teman. Bahkan orang yang sering berinteraksi di grup messenger kita juga dianggap teman. Bagi mereka orang jepang, orang-orang seperti itu bukanlah teman. Bisa dibilang sebagai orang yang mereka tahu tetapi bukan teman. Beberapa teman di lab yang saya ajak bicara mengganggap teman itu adalah yang kita anggap sebagai sahabat. Yaitu orang yang benar-benar selalu berinteraksi dan dekat.

---

Sangat sedikit sekali orang Jepang yang sangat aktif di sosial media seperti facebook atau instagram. Tapi lain halnya dengan twitter. Twitter menjadi idola mereka karena tidak perlu memasukkan identitas yang lengkap dan jumlah 140 karakter sangat cukup untuk memberikan banyak informasi. 

Orang jepang pemalu? saya bilang ya. tetapi lebih karena mencoba menjaga identitas diri mereka sendiri. Hal ini supaya tidak menyebar hal-hal yang negatif ke masyarakat sekitar.


Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment